ANALISIS EFISIENSI PENGGUNAAN MODAL KERJA
PADA PERUSAHAAN ELECTRONICS
DAN EQUIPMENT YANG TERDAFTAR DI BEI
SKRIPSI
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Guna
Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi Pada
Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta
Oleh :
HANDINI BUDI CAHYANI
B 200 050 137
FAKULTAS EKONOMI JURUSAN AKUNTANSI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2009
i
ii
HALAMAN PENGESAHAN
Yang bertanda tangan dibawah ini telah membaca skripsi dengan judul
“ANALISIS EFISIENSI PENGGUNAAN MODAL KERJA PADA
PERUSAHAAN ELECTRONICS dan EQUIPMENT YANG TERDAFTAR
DI BEI”
Yang ditulis oleh :
NAMA : HANDINI BUDI CAHYANI
NIM
: B 200 050 137
Penandatangan berpendapat bahwa skripsi tersebut telah memenuhi persyaratan
untuk diterima.
Surakarta,
Pembimbing I
( FAUZAN, SE, MSi.Ak )
Mengetahui
Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Muhammadiyah Surakarta
( Drs. SYAMSUDIN, MM )
ii
iii
HANDINI BUDI CAHYANI
05.6.106.02030.50137
EKONOMI AKUNTANSI
ANALISIS EFISIENSI PENGGUNAAN
MODAL KERJA PADA PERUSAHAAN
ELECTRONICS DAN EQUIPMENT YANG
TERDAFTAR DI BEI
MEI, 2009
HANDINI BUDI CAHYANI
iii
iv
MOTTO
Sesungguhnya sholatku ibadahku serta hidup dan matiku adalah untuk
ALLAH Tuhan Seru sekalian Alam ( AL An’am 6 :162 )
Dan Berdoalah : Wahai Tuhanku, masukanlah aku dengan cara yang baik
lagi diridhoi dan keluarkanlah aku dengan cara yang baik dan diridhoi ; dan
berikanlah kepadaku kekuasaan yang dapat menolongku dari SiksaMu ( AL
Isra 17 : 80 )
… Dan sekali – kali engaku tertimpa sesuatu jangan kiranya kau mengatakan
seandainya dulu aku berbuat begini tentu aku jadi begini tetapi berkatalah
apa yang telah menimpaku adalah takdir Allah. Allah berbuat sekehendak
hati Nya…..( HR. Bukhari Muslim )
iv
v
PERSEMBAHAN
Segala sesuatu yang aku kerjakan di dunia ini seutuhnya
kupersembahkan kepada Mu Yaa Robbi ‘Al Amien
Melalui ayahanda..Kau ajarkan kepadaku makna setiap kata, setiap senyum
dan arti sebuah kehidupan
Melalui Ibunda…,Kau kenalkan kepadaku arti sebuah ketabahan, kesabaran
dan ketegaran menghadapi kehidupan
Melalui kakak – kakak ku, kau beri arti Kasih Sayang Sejati
Mereka adalah anugrah dan cinta terindah dari MU
Semoga hamba Mu mampu mengemban amanah untuk menyelesaikan tugas
salanjutnya.
ALLAHU YAA KARIM
v
vi
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb
Segala puji Allah SWT yang telah menciptakan kecintaan untuk
mendapatkan apa yang dicintai sebagai jalan, yang menciptakan ketaatan dan
ketundukan kepadaNYA berdasarkan ketulusan cinta bukti, yang menggerakkan
jiwa kepada bentuk kesempurnaan sebagai sugesti untuk mencari dan
mendapatkan cinta itu, yang telah membangkitkan hasrat dan minat untuk meraih
tujuan-NYA sebagai pengkhususan bagi-Nya
Tiada kata yang layak penulis ucapkan selain keikhlasan untuk berucap
syukur Alhamdullilah kehadirat Illahi Robbi, yang dengan kekuatan cinta-Nya
mampu menghantarkan semangat pemulis untuk dapat menyelesaikan karya
sederhana ini
Penulis menyadari selama proses penulisan skripsi ini tidak terlepas dari
dukungan berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini dengan segala
kerendahan hati dan penghargaan yang setinggi – tingginya, penulis haturkan rasa
terima kasih kepada yang terhormat :
1. Bapak Drs. Syamsudin, MM, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
2. Bapak Drs. Suyatmin WA, MSi, selaku Ketua Jurusan Akuntansi Fakultas
Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
vi
vii
3. Bapak Fauzan SE, AK, selaku dosen pembimbing utama yang telah
membimbing dengan penuh perhatian dan kesabaran, sehingga penulis
menyelesaikan skripsi ini, kepada beluai penulis mengucapkan terima kasih
4. Bapak drs. Suyatmin WA, Msi, selaku dosen Pembimbing Akademik selama
penulis menempuh studi di Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiya
Surakarta.
5. Seluruh Dosen pada Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah
Surakarta yang telah banyak menyumbang dasar – dasar disiplin ilmu
Ekonomi Akuntansi dengan penuh tanggung jawab selama penulis
menempuh kuliah.
6. Kepada seluruh karyawan dan staf Fakultas Ekonomi Universitas
Muhammadiyah Surakarta….
7. Bapak dan Ibu tersayang yang telah membesarkan, mencurahkan dan
menyayangi ku selama ini…
8. Kakak – kakaku ( Hapsari dan Hananto ) terima kasih atas dukungannya..
9. Banyak hal indah dalam hidup ini tetapi satu yang terindah : “Persahabatan”
semoga kita bisa memaknai setiap persahabatan kita. Ucapan ‘ma kasih ku
berikan kepada Isna SE, Andriyani SE, Handa, Nurul tetaplah tersenyum,
maka dunia akan tersenyum bersama kita dan kebahagiaan ada pada kita
semua. Amin
10. Terima kasih kepada Wahyu Putra dan angkutan “0” yang telah menemani
penulis dalam menempuh studi
vii
viii
11. Teman seperjuangan : Okta, Nita, Rina, Farah, Puspa, Tika, Avi, Ulin, Umi,
Kabul, mukhlis, Kholis dan Teman – teman angkatan ’05 Kelas C yang lain
yang tidak bias penulis sebutkan satu persatu. Perjuangan kita tidak sampai
disini.
12. Semua pihak yang telah terkait memberikan bantuan, nasehat dan doanya,
yang tidak bias penulis sebutkan satu persatu.
viii
ix
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL …………………………………………………………………………… i
HALAMAN PENGESAHAN ………………………………………………………………. ii
HALAMAN KEASLIAN SKRIPSI ………………………………………………………. iii
HALAMAN MOTTO ………………………………………………………………………….. iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ……………………………………………………………. v
KATA PENGANTAR …………………………………………………………………………. vi
DAFTAR ISI ………………………………………………………………………………………. ix
DAFTAR TABEL ……………………………………………………………………………….. xi
ABSTRAKSI ……………………………………………………………………………………… xii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah …………………………………………………. 1
B. Perumusan Masalah……………………………………………………….. 4
C. Pembatasan Masalah ……………………………………………………… 4
D. Tujuan Penelitian …………………………………………………………… 4
E. Manfaat Penelitian …………………………………………………………. 5
F. Sistematika Penelitian ……………………………………………………. 6
BAB II LANDASAN TEORI
A. Pengertian Modal Kerja…………………………………………………. 7
B. Pengertian Efisiensi ………………………………………………………. 9
C. Fungsi Modal Kerja ……………………………………………………… 11
D. Arti Penting Modal Kerja ………………………………………………. 11
E. Perputaran Modal Kerja ………………………………………………… 12
ix
x
F. Unsur – Unsur Modal Kerja ………………………………………….. 13
G. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Besarnya Modal
Kerja ………………………………………………………………………….. 16
H. Analisis Rasio ……………………………………………………………… 18
I. Efisiensi Modal Kerja …………………………………………………… 26
J. Sumber dan Penggunaan Modal Kerja ……………………………. 31
K. Penelitian Terdahulu …………………………………………………….. 34
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Populasi dan Sampel ……………………………………………………. 40
B. Sumber Data ……………………………………………………………….. 40
C. Teknik Pengumpulan Data ……………………………………………. 41
D. Rencana Analisis Data …………………………………………………. 41
BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASANNYA
A. Gambaran Umum Perusahaan ………………………………………. 44
B. Analisa Data ………………………………………………………………. 53
C. Pembahasan ……………………………………………………………….. 101
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan………………………………………………………………… 113
B. Keterbatasan Penelitian ……………………………………………….. 114
C. Saran – Saran ……………………………………………………………… 115
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
x
xi
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Summary Of Financial Statement PT. Astra Graphia Tbk …………. 51
Tabel 4.2 Summary Of Financial Statement PT. Metrodata Electronics Tbk . 52
Tabel 4.3 Summary Of Financial Statement PT. Mutlipolar Corporation Tbk 53
xi
xii
ABSTRAKSI
Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah penggunaan
modal kerja perusahaan sudah efisien atau belum dalam kaitanya dengan
likuiditas, aktivitas, dan rentabilitas
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan electronics dan office
equipment yang telah Go Publik, yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan
mempublikasikan laporan keuangan pada tahun 2002 sampai dengan 2006.
Analisis yang digunakan adalah kuantitatif yang meliputi Rasio Likuiditas (
Current Ratio, Quick Ratio ), Rasio Aktivitas ( Total Assets Turnover, Inventory
Turnover, Working Capital Turnover ) dan Rasio Rentabilitas ( Rentabilitas
Ekonomi dan Rentabilitas Modal Sendiri )
Dari hasil penelitian pada perusahaan electronics dan office Equipment
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia ditinjau dari Rasio Likuiditas untuk
Current Ratio menunjukan besarnya angka ratio masih berada pada batas
minimum menurutpedoman likuiditasnya baik meskipun besarnya angka ratio ini
dari tahun ke tahun mengalami peningkatan dan penurunan. Sedangkan untuk
Quick Ratio besarnya angka Ratio dari tahun juga mengalami naik turun secara
keseluruhan, Total Assets Turnover, Inventory Turnover dan Working Capital
Turnover besarnya angka ratio yang menunjukan penurunan dan peningkatan dari
tahun ke tahun, meskipun ketiga perusahaan dinilai dari Ratio Likuiditas
mengalami peningkatan dan penurunan akan tetapi perusahaan masih menunjukan
kemampuan untuk memenuhi kewajiban Financialnya yang masih dipenuhi pada
saat tertagih, sedangkan ditinjau dari RatioRentabilitas pada Rentabilitas Ekonomi
da Ratio Modal Sendiri terjadi kenaikan dan penurunan dari tahun ke tahun
disebabkan pada Rentabilitas ini Modal Kerja belum efisien karena maih dibawah
rata – rata. Berdasarkan hasil laporan analisis Laporan Keuangan dengan
menggunakan Ratio Likuiditas, Ratio Aktivitas, Ratio Rentabilitas bahwa PT.
Multipolar Coporation Tbk dan PT Metrodata Electronics Tbk Kurang efisien
sedangkan PT. Astra Graphia Tbk cenderung efisien dalam penggunaan modal
kerja untuk menjalankan perusahaannya.
xii
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pada dasarnya semua perusahaan didirikan mempunyai sasaran
atau tujuan yang sama yaitu keberhasilan dalam mempertahankan hidup (
survive ) mendapatkan laba dan berkembang. Agar dapat mencapai tujuan
perusahaan tersebut, maka semua bagian yang ada dalam perusahaan seperti
: personalia, produksi, keuangan, pembelanjaan dan pemasaran perlu adanya
koordinasi anatara satu dengan yang lain, sehingga tujuan dan kepentingan
masing – masing bagian secara keseluruhan tidak saling
merugikan,melainkan harus saling mendukung kelancaraan operasi
perusahaan.
Pembelanjaan merupakan salah satu kegiatan yang penting bagi
keberhasilan usaha suatu perusahaan, karena kegagalan dalam pembelanjaan
dapat berakibat terhambatnya kelancaran usaha perusahaan, karena
kegagalan dalam pembelanjaan dapat berakibat terhambatnya kelancaran
usaha perusahaan secara keseluruhan. Kegiatan pembelanjaan perusahaan
dapat didefinisikan sebagai keseluruhan aktivitas perusahaan yang
bersangkutan dengan usaha mendapatkan dana yang diperlukan dengan
biaya minimal dan syarat – syarat yang paling menguntungkan beserta usaha
untuk menggunakan dana seefisien mungkin ( Bambang Riyanto, 1996 : 6 )
1
2
Dalam pengelolaan modal kerja perusahaan dituntut untuk selalu
mempertahankan jumlah modal kerja yang menguntungkan agar perusahaan
dapat beroperasi secara berkesinambungan. Selain itu pengelolaan modal
kerja penting, karena selama perusahaan beroperasi modal sangat
dibutuhkan, dan secara umum modal kerja dapat digunakan untuk mengukur
tingkat likuiditas suatu perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan
modal kerja yang lebih baik akan berpengaruh pada keberhasilan perusahaan
secara keseluruhan.
Oleh karena itu adanya modal yang cukup sangat penting bagi
perusahaan agar perusahaan dapat beroperasi dengan ekonomis atau afisien.
Sekaligus perusahaan tidak mengalami kesulitan dalam menghadapi bahaya
– bahaya yang mungkin timbul karena adanya krisis keuangan. Selain itu
modal kerja yang cukup juga memberikan keuntungan lain, yaitu ( Bambang
Riyanto, 1995 :10 ) :
1.
Melindungi perusahaan terhadap krisis modal kerja karena
turunnya nilai dari aktivita lancar.
2.
Memungkinkan untuk memiliki persediaan dalam jumlah
yang cukup untuk melayani konsumennya.
Perusahaan yang likuid akan dapat memenuhi segala kewajiban
finansialnya, sehingga kontinuitas perusahaan dapat dijamin dan perusahaan
dapat memenuhi kewajibannya tepat pada waktunya. Sehingga mendapatkan
kepercayaan dari pihak luar, seperti : mudahnya mendapatkan kredit dari
bank, kredit dari pihak lain dan mudah pula bagi perusahaan untuk menarik
3
modal sendiri dari pihak luar yang dapat berupa saham maupun bentuk –
bentuk lain. Untuk itu likuiditas perusahaan dapat digunakan sebagai alat
pembayaan yang dibutuhkan untuk membayar segala keperluan perusahaan
setiap saat supaya operasi perusahaan dapat berjalan dengan lancar.
Dalam analisis ini tidak terlepas dari laporan keuangan karena
didalam neraca terdiri dari atas aktiva yang mencerminkan hasil keputusan
pendanaan. Sedangkan dari perhitungan rugi – laba dapat dilihat seberapa
jauh efisiensi laba yang diperoleh dapat digunakan untuk memberikan
imbalan kepada pemilik dana dan sebagai sumber dana investasi.
Sedangkan bagi perusahaan pada umumnya masalah rentabilitas
adalah lebih penting daripada masalah laba, karena laba yang besar saja
belumlah merupakan ukuran bahwa perusahaan itu bekerja secara efisien,
Efisien baru dapat diketahui dengan kekayaan atau modal yang
menghasilkan laba tersebut, atau dengan kata lain menghitung rentabilitas
Dengan melihat betapa pentingnya pengelolaan modal pada
suatu usaha dalam menentukan tingkat efisiensinya, dan terutama pada
perusahaan Go Publik maka penulis mengadakan penelitian yang
selanjutnya penulis tuangkan dalam karya ilmiah yang berbentuk skripsi
dengan judul “ ANALISIS EFISIENSI PENGGUNAAN MODAL KERJA
PADA PERUSAHAAN ELECTRONICS DAN OFFICE EQUIPMENT YANG
TERDAFTAR BEI”
4
B. PERUMUSAN MASALAH
Fungsi pembelanjaan dalam perusahan merupakan faktor
penting dalam pelakasanaan kegiatan perusahaan serta digunakan untuk
mengukur aliran dana sehingga diharapkan dana yang diperoleh perusahaan
dapat digunakan secara efektif dan efisien
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan
masalah sebagai berikut “Apakah penggunaan modal kerja pada perusahaan
Electronic dan Office Equipment yang terdapat di BEJ telah digunakan
secara efisien ?”
C. PEMBATASAN MASALAH
Dalam penelitian ini agar masalah yang diteliti tidak terlalu
luas maka penulis sengaja membatasi khusus pada masalah menganalisa
rasio-rasio keuangan yang meliputi Rasio Likuditas, Rasio Aktivitas dan
Rasio Rentabilitas pada perusahaan Electonics dan Office Equipment yang
terdaftar di BEJ.
D. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan :
a. Untuk mengetahui apakah penggunaan modal kerja perusahaan sudah
efisien atau belum dalam kaitannya dengan likuditasnya
b. Untuk mengetahui apakah penggunaan modal kerja perusahaan sudah
efisien atau belum dalam kaitannya aktivitasnya
c. Untuk mengetahui apakah penggunaan modal kerja perusahaan sudah
efisien atau belum dengan rentabilitas.
5
E. MANFAAT PENELITIAN
Semua kegiatan penelitian dilakukan pada hakekatnya
diharapkan mempunyai suatu kengunaan. Adapun kegunaan yang
diharapkan adalah :
a.
Bagi perusahaan, untuk memberikan saran kepada pimpinan
perusahaan dan diharapkan dapat membantu dalam mengambil
kebijaksanaan khususnya mengenai efisiensi penggunaan modal
kerja guna menjaga kelangsungan hidup serta pengembangan
usahanya.
b.
Bagi peneliti, untuk menerapkan ilmu yang selama ini diperoleh
dengan menerapkan secara langsung pada dunia usaha nyata yang
dihadapi pada perusahaan.
c.
Bagi pihak lain, hasil penelitian ini dapat bermanfaat sebagai salah
satu referensi yang dapat digunakan untuk kepentingan keilmuan.
6
F. SISTEMATIKA PENULISAN
BAB I. PENDAHULUAN
Dalam bab ini membahas mengenai latar belakang masalah,
perumusan masalah, tujuan, manfaat penelitian dan sistematika
pembahasan.
BAB II. LANDASAN TEORI
Dalam bab ini membahas mengenai teori-teori yang menjelaskan
mengenai permasalahan yang akan diteliti secara singkat.
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
Dalam Bab ini membahas mengenai ruang lingkup penelitian, jenis
penelitian, jenis data dan teknik pengumpulan data.
BAB IV. ANALISA DATA
Dalam Bab ini membahas mengenai gambaran perusahaan, analisis
pemecahan, masalah yang telah ditentukan berdasarkan alat – alat
dan langkah-langkah analisis sehingga bisa membawa kepada
tujuan dan sasaran dari penelitian.
BAB V. KESIMPULAN
Dalam bab ini membahas mengenai pokok hasil analisis sedangkan
dalam saran membahas tentang uraian yang berguna bagi
perusahaan untuk perbaikan-perbaikan.
7
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Modal Kerja
Modal Kerja perusahaan elemen yang sangat penting sekali
dalam menunjang kegiatan dari perusahaan untuk mendapat gambaran
tentang pengertian modal kerja, maka disini penulis mengemukakan
beberapa pendapat dari para ahli sebagai berikut
Modal Kerja ( Bambang Riyanto, 1995;58 ) : yaitu dana yang
digunakan selama periode accounting yang dimaksud untuk menghasilkan
“Current Income” sebagai lawan dari Future Income yang sesuai dengan
maksud utama didirikan perusahaan tersebut.
Setiap perusahaan selalu membutuhkan modal kerja untuk
membiayai operasinya sehari-hari, dimana uang atau dana yang
dikeluarkan itu diharapkan masuk lagi dalam perusahaan dalam waktu
yang pendek melalui hasil penjualan produksinya. Uang yang masuk
melalui hasil penjualan itu agar segera dikeluarkan untuk membiayai
operasi berikutnya. Dengan demikian dana tersebut agar terus menerus
berputar setiap periode selama perusahaan itu beroperasi.
Konsep-konsep mengenai pengertian modal kerja, yaitu (
Bambang Riyanto, 1995 : 57 – 58 )
7
8
1. Konsep Kuantitatif
Konsep ini mendasarkan pada kuantitas dari dana yang
tertanam dalam unsur – unsur antara lain dimana aktiva ini
merupakan aktiva yang sekali berputar dan akan segera kembali
dalam bentuk semula atau aktiva dimana dana yang di dalamnya
akan dapat beban lagi dalam waktu yang pendek. Dengan demikian
modal kerja menurut konsep ini adalah keseluruhan dari jumlah
Aktiva Lancar Modal Kerja Bruto ( Gross Working Capital )
2. Konsep Kualitatif
Pada konsep ini pengertian modal kerja juga dikaitkan
dengan besarnya jumlah hutang lancar. Dengan demikian maka
bagian Aktiva Lancar ini harus disediakan untuk memenuhi
kewajiban finansialnya yang segera harus dilakukan, dimana bagian
Aktiva Lancar ini tidak boleh digunakan untuk membiayai operasi
perusahaan demi menjaga likuiditas perusahaan tersebut. Oleh
karena itu modal kerja menurut konsep ini adalah sebagian dari
Aktiva Lancar yang benar-benar dapat digunakan untuk membiayai
operasi perusahaan tanpa menggangu likuiditasnya, yaitu yang
merupakan kelebihan Aktiva Lancar diatas Utang Lancar atau
Modal Kerja Netton ( Net Working Capital )
3. Konsep Fungsional
Konsep ini berdasarkan pada fungsi dari dana dalam
menghasilkan pendapatan ( income ). Setiap dana yang digunakan
9
dalam perusahaan adalah dimaksudkan untuk menghasilkan
pendapatan. Ada sebagian dana yang digunakan dalam suatu periode
accounting tertentu yang seluruhnya langsung menghasilkan
pendapatan untuk periode tertentu ( Current Income). Sebagian dari
dana itu dimaksudkan juga untuk menghasilkan pendapatan untuk
periode berikutnya.
Modal kerja merupakan sesuatu yang penting dan sangat
diperlukan bagi kelancaran efektifitas perusahaan. Sebab dengan adanya
modal kerja perusahaan dapat mengoperasikan dan membelanjakan
pengeluaran – pengeluaran untuk proses produksi. Oleh karena itu modal
kerja yang cukup jumlahnya harus dapat membiayai pengeluaran –
pengeluaran atau operasi perusahaan sehari-hari, hal ini akan
menguntungkan perusahaan disamping memungkinkan perusahaan
beroperasi secara efisien dan perusahaan tidak mengalami kesulitan
finansial akan tetapi modal kerja yang berlebihan menunjukan adanya
dana yang tidak produktif. Hal ini menimbulkan kesulitan bagi
perusahaan, karena adanya kesempatan untuk memperoleh keuntungan
telah disia-siakan. Sebaliknya adanya ketidakcukupan atau tidak adanya
manajemen modal kerja, merupakan sebab utama kegagalan pada suatu
perusahaan.
10
B. Pengertian Efisiensi
Ditengah – tengah persaingan yang cukup ketat di bidang
electronic dan equipment perusahaan dituntut untuk dapat meningkatkan
laba sebesar-besarnya dengan biaya yang serendah – rendahnya. Dalam
hal ini berarti perusahaan dituntut untuk dapat bekerja seefisien mungkin,
Efisiensi merupakan kemampuan untuk menyelesaikan suatu
pekerjaan dengan benar. Dalam perusahaan, usaha meningkatkan efisiensi
umumnya dihubungkan dengan biaya yang kecil untuk memperoleh hasil
tertentu, atau biaya tertentu untuk hasil yang banyak. Ini berarti
pemborosan di tekan sekecil mungkin, dan sesuatu yang memungkinkan
untuk mengurangi biaya ini dilakukan dengan efisiensi ( T. Hani Handoko,
1991:7 )
Sedangkan pengertian efisiensi yang lain adalah “ efisiensi
adalah rasio keluaran terhadap masukan, dimana dengan menggunakan
sumber atau biaya atau masukan lebih kecil untuk menghasilkan keluaran
dalam jumlah sama ataupun sebaliknya” ( Supriyono, 1991:26 )
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa
efisiensi adalah perbandingan antara pengeluaran dan pemasukan dengan
menggunakan sumber atau biaya dengan pengeluaran tertentu dapat
menghasilkan pendapatan maksimal.
Sedangkan modal kerja yang efisien bagi perusahaan adalah
modal kerja yang dikeluarkan perusahaan untuk membiayai operasinya
sehari – hari, misalkan untuk memberikan persekot pembelian bahan
11
baku, membayar upah buruh, gaji pegawai dan lain sebagainya. Dimana
uang atau dana yang telah dikeluarkan itu diharapkan akan dapat kembali
lagi masuk dalam perusahaan dalam waktu pendek melalui hasil penjualan
produksinya. Uang yang masuk yang berasal dari penjualan produk
tersebut agar dikeluarkan lagi untuk membiayai operasi selanjutnya
dengan demikian maka dana tersebut akan terus menerus berputar setiap
periodenya selama beroperasinya perusahaan.
C. Fungsi Modal Kerja
Modal Kerja yaitu dana yang digunakan selama periode
accounting yang dimaksud untuk menghasilkan “Current income” (
sebagai Lawan dari Future Income ) yang sesuai dengan maksud utama
didirikan perusahaan tersebut.
Sehingga dapat dikatakan bahwa modal kerja mempunyai 2
fungsi yaitu
1. Menopang kegiatan produksi dan penjualan dengan jalan
menjembatani antara saat pengeluaran untuk pembelian bahan baku
serta persediaan yang diperlukan dengan penjualan ( Modal Kerja
Jangka Pendek )
2. Menutup pengeluaran yang bersifat tetap dan pengeluaran yang tidak
ada hubungannya secara langsung dengan produksi dan penjualan (
Modal Kerja jangka Panjang )
12
D. Arti Penting Modal Kerja
Modal Kerja harus mamapu membiayai pengeluaran atau operasi
perusahaan sehari – hari, karena dengan modal kerja yang cukup akan
menguntungkan bagi perusahaan disamping memungkinkan bagi
perusahaan untuk beroperasi secara ekonomis dan perusahaan tidak
mungkin kesulitan keuangan dan agar juga memberikan keuntungan antara
lain, ( Djarwanto ps, 1984:93 ) ;
1. Melindungi perusahaan terhadap krisis modal kerja karena turunnya
nilai dari aktiva lancar.
2. Menjamin dimilikinya kredit standing perusahaan semakin besar dan
memungkinkan perusahaan untuk dapat menghadapai bahaya – bahaya
keuangan yang mungkin terjadi.
3. Memungkinkan bagi perusahaan untuk dapat beroperasi dengan lebih
efisien karena tidak ada kesulitan untuk memperoleh barang atau jasa
yang dibutuhkan.
Dengan demikian dapat diketahui pentingnya modal kerja yang
cukup bagi perusahaan guna mengoperasikan perusahaan tersebut, yang
mana untuk menentukan modal kerja yang cukup bukanlah merupakan
pekerjaan yang mudah dalam hal ini disebabkan karena perusahaan yang
satu dengan yang lain berbeda.
13
E. Perputaran Modal Kerja
Selama perusahaan dalam keadaan usaha, maka selalu dengan
keadaan operasi atau perputaran dimana periode perputarannya itu dimulai
dari saat kas diinvestasikan dalam modal kerja tersebut dapat dilihat dari
tingkat perputaran komponen modal kerja. Modal kerja tersebut yang
terdiri dari kas, piutang serta persediaan. Semakin pendek periode
perputarannya, semakin tinggi tingkat perputaranya, demikian sebaliknya.
Sehingga panjang pendeknya periode perputaran modal kerja tergantung
dari berapa lama periode perputaran dari komponen modal kerja tersebut.
Periode perputaran modal kerja perusahaan dagang
Kas 1. – Pembelian – Penjualan – Piutang – Kas 2
Barang Dagangan Kredit
Kas 1. – Pembelian – Penjualan – Kas 2
Periode perputaran modal kerja pada industri
Kas 1 – Proses Barang – Penjualan – Piutang – Kas 2
Produksi Jadi Kredit
Kas 1 – Proses – barang – Penjualan – Kas 2
Dari contoh tersebut diatas, maka kita dapat melihat bahwa
periode dan perputaran modal kerja adalah keseluruhan dari periode yang
meliputi jangka waktu yang berbeda sesuai dengan sifat atau tipe
perusahaan.
14
F. Unsur-Unsur Modal Kerja
Pada dasarnya unsur – unsur pada aktiva lancar dapat dianggap
sebagai unsur – unsur modal kerja yang terdiri dari, ( John Soeprihanto,
1997;27 – 23 ) ;
1.
Kas
Kas merupakan unsur modal kerja yang paling cair atau
likuid, dimana kas ini digunakan untuk menjaga likuiditas
perusahaan, sehingga resiko perusahaan tidak dapat memenuhi
kewajiban finansialnya lebih kecil.
Untuk menentukan berapa jumlah kas yang sebaiknya harus
dipertahankan oleh perusahaan sampai sekarang belum ada standar
ratio yang bersifat umum. Meskipun demikian ada standar tertentu
yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam menentukan jumlah
kas yang harus dipertahankan oleh suatu perusahaan.
Kas digunakan untuk membiayai pengeluaran yang sifatnya
harus cepat dipenuhi seperti untuk membeli bahan baku, pembayaran
upah tenaga kerja, pembayaran gaji, biaya overhead dsb.
Sumber kas yang utama berasal dari :
a. Hasil penjualan produk secara tunai
b. Hasil pinjaman Jangka Pendek
c. Hasil menagih piutang
d. Hasil Penjualan aktiva tetap dan yang lainya
15
Dengan adanya arus kas masuk dan arus kas keluar maka
perlu disusun anggaran kas supaya perusahaan selalu dapat
memenuhi kewajiban financialnya.
2.
Piutang
Piutang merupakan aktiva perusahaan yang timbul akibat dari
dilaksanakanya politik penjualan kredit. Politik penjualan
dimaksudkan untuk merangsang minat para pelanggan sehingga
perusahaan dapat memperluas pasar dan dapat meningkatkan volume
penjualan. Apabila perusahaan melakukan politik penjualan kredit
modal kerja perusahaan tidak akan segera dapat menghasilkan
penerimaan kas, tetapi menimbulkan piutang langganan dan barulah
kemudian mendapakan penerimaan kas yang berasal dari
pengumpulan piutang tersebut.
Definisi Piutang menurut S. Munawir ( 1995 ; 15 ) sebagai
berikut “Piutang adalah tagihan kepada pihak lain yaitu kepada
kreditor / langganan sebagai akibat adanya penjualan barang secara
kredit”.
Tingkat perputaran piutang akan menunjukan berapa jumlah
dana yang terkait di dalamnya, sehingga efisien tidak adanya modal
kerja yang tertekan dalam piutang dapat dilihat dari tingkat
perputaran tersebut, seperti juga pada kas dan persediaan. Menurut
Bambang Riyanto ( 1995 : 91 ) “ Makin tinggi turnovernya, berarti
16
makin cepat perputaranya yang berarti makin pendek waktu
terikatnya modal dalam piutang”
Tingkat perputaran piutang dapat dihitung dengan
membandingkan penjualan kredit bersih ( Net Credit Sales ) dalam
satu periode tertentu dengan metode piutang ( Average Receivable ).
Semakin tinggi tingkat perputaran, modal kerja semakin efisisen,
karena dengan semakin tinggi tingkat perputarannya semakin cepat
pula jangka waktu terikatnya modal kerja dalam piutang
3.
Persediaan
Persediaan atau investasi barang sebagai elemen utama dari
modal kerja, merupakan aktiva yang selalu berputar secara terus
menerus dan mengalami perubahan, adanya investasi dalam
inventory yang terlalu besar di bandingkan dengan kebutuhan akan
memperbesar beban bunga, memperbesar kemungkinan kerugian
karena kerusakan, kerugian yang diperoleh terpanjang akan
mengakibatkan kebangkrutan perusahaan.
G. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Besarnya Modal Kerja
Modal kerja yang dibutuhkan suatu perusahaan tergantung atau
dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut ( Djarwanto PS, 1984 :
95 – 97 );
17
1.
Sifat / type perusahaan
Biasanya perusahaan indudtri mengadakan investasi yang
cukup besar dalam aktiva lancar perusahaan tidak mengalami
kesulitan di dalam operasinya sehari-hari.
2.
Waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi atau memperoleh
barang yang akan dijual serta harga persatuan dari barang tersebut.
Kebutuhan modal kerja suatu perusahaan berhubungan
langsung dengan waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh barang
barang yang akan dijual maupun bahan dasar yang akan diproduksi
sampai barang tersebut dijual.
3.
Syarat pembelian bahan atau barang dagangan
Syarat pembelian barang dagangan atau bahan dasar yang akan
digunakan untuk memproduksi barang sangat mempengaruhi jumlah
modal kerja yang dibutuhkan oleh perusahaan yang bersangkutan.
Jika syarat kredit yang diterima pada waktu pembelian
menguntungkan, makin sedikit uang kas yang harus diinvesatikan
dalam persediaan bahan ataupun barang dagangan dan sebaliknya.
4.
Syarat penjualan
Semakin lunak kredit yang diberikan perusahaan kepada para
pembeli akan mengakibatkan semakin besarnya jumlah modal kerja
yang harus diinvestasikan dalam piutang dan untuk memperkecil
adanya resiko piutang yang tidak dapat ditagih atau sebaliknya.
18
5.
Tingkat perputaran persediaan
Tingkat perputaran persediaan menunjukan berapa kali
persediaan tersebut diganti dalam arti di beli atau di jual kembali.
Semakin tinggi tingkat perputaran persediaan tersebut, maka jumlah
modal kerja yang dibutuhkan semakin rendah. Untuk dapat mencapai
tingkat perputaran tinggi, maka harus diadakan perencanaan dan
pengawasan persediaan secara teratur dan efisien.
Disamping faktor – faktor tersebut diatas masih banyak
faktor – faktor lain yang akan memepengaruhi kebutuhan modal
kerja suatu perusahaan, misalnya ; faktor musiman, volume
penjualan, tingkat perputaran piutang dn jumlah rata- rata
pengeluaran uang setiap harinya.
H. Analisis Rasio
Analisis rasio adalah suatau metode analisis yang digunakan
untyuk menganalisa hubungan dari pos – pos tertentu dalam neraca atau
laporan rugi atau laba secara individu atau merupakan kombinasi dari
kedua laporan keuangan tersebut. Dari analisis ini kita dapat menentukan
tingkat likuiditas, aktivitas, maupan rentabilitas perusahaan dengan
menggunakan rasio sebagai alat pembanding ukuran biasa digunakan
untuk menjelaskan hubungan antara dua macam data keuangan.
Ditinjau dari sumber rasio, dapat digolongkan dalam 3 golongan
yaitu, ( Djarwanto PS, 1984:136 ) ;
19
1. Rasio – Rasio Neraca ( Balance Sheet Ratios ) ialah rasio yang
disusun dari data yang berasal dari neraca.
2. Rasio – Rasio Rugi – laba ( Income Statement Ratios ) ialah rasio
yang disusun dari data yang berasal dari income statement.
3.
Rasio – Rasio antar laporan ( Inter Statement ratios ) ialah rasio –
rasio yang disusun dari data yang berasal dari inter statement
Dari ketiga golongan sumber rasio tersebut, dapat disusun
rasio – rasio yang bisa mengukur efisiensi penggunaan modal kerja,
yaitu dengan rasio likuiditas, aktivitas serta rentabilitas.
1. Rasio Likuiditas
Likuiditas berasal dari kata likuid yang artinya lancar atau
cair, yaitu cairnya aktiva lancar menjadi uang tunai tanpa
mengurangi nilainya. Bagi perusahaan, likuid ini harus cukup
tersedia untuk memenuhi kebutuhan atau kewajiban –kewajiban
yang segera dipenuhi.
“Perusahaan yang dapat memenuhi kewajibanya
dikatakan likuid dan yang tidak dapat memenuhi ilikuid. Dengan
demikian likuiditas berarti kemampuan perusahaan untuk dapat
menyediakan alat –alat likuid sedemikian rupa sehingga dapat
memenuhi kewajiban finansialnya pada saat ditagih” ( Bambang
Riyanto, 1995 : 26 )
Jumlah alat pembayaran yang dimiliki perusahaan pada
suatu saat tertentu merupakan “kekuatan membayar’ dari
20
perusahaan yang bersangkutan. Suatu perusahaan yang
mempunyai “kekuatan membayar” belum tentu dapat memenuhi
kewajiban finansialnya yang harus segera dipenuhi.
Kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban
keuangan, yang berhubungan dengan pihak luar perusahaan atau
kreditur dinamakan likuiditas bahan usaha, sedangkan yang
berhubungan dengan pihak intern atau proses produksi
dinamakan likuiditas perusahaan. Dalam hal ini harus
memperhatikan apakah perusahaan setiap saat dapat memenuhi
pembayaran – pembayaran yang diperlukan untuk kelancaran
jalanya perusahaan, misalnya untuk pembayaran gaji pegawai,
membeli bahan baku.
Ditinjau dari sudut likuiditas penarikan dana yang
dibutuhkan hendaknya ditarik untuk jangka waktu yang sesuai
dengan jangka waktu penggunaan dana tersebut dalam
perusahaan. Likuiditas perusahaan itu dapat diketahui dari neraca
pada suatu saat antara lain dengan membandingkan jumlah
Aktiva Lancar dengan Hutang Lancar. Hasil perbandingan
tersebut dinamakan “Current Ratio”
Faktor – faktor yang mempengaruhi besar kecilnya
likuiditas adalah adanya perubahan – perubahan disektor Aktiva
Lancar maupun disektor Hutang Lancar. Yang dimaksud dengan
Aktiva Lancar adalah elemen – elemen dalam aktiva suatu
21
neraca yang berupa uang atau cek dibank atau dialat – alat lain
yang relatif mudah untuk dapat segera diuangkan tanpa
mengurangi nilai. Misalnya uang atau cek, piutang, surat – surat
berharga dan bahan – bahan baku. Sedangkan yang dinamakan
hutang lancar adalah kewajiban yang segera harus dipenuhi yang
berupa hutang jangka pendek
Apabila perusahaan tersebut mengukur tingkat
likuiditasnya dengan menggunakan current ratio sebagai alat
pengukurnya, maka tingkat likuiditas suatu perusahaan dapat
dipertinggi dengan jalan ( Bambang Riyanto, 1995 : 28 );
a. Dengan Hutang Lancar ( Current Liabilities ) tertentu,
diusahakan untuk menambah Aktiva Lancar
b. Dengan Aktiva Lancar tertentu, diusahakan untuk
mengurangi Jumlah Hutang Lancar.
c. Dengan mengurangi Jumlah Hutang Lancar bersama – sama
mengurangi Aktiva Lancar.
2. Rasio Aktivitas
Rasio ini digunakan untuk mengukur efektivitas
perusahaan dalam menggunakan sumber – sumber dananya,
rasio yang akan digunakan ;
a. Total Asset Turnover
Total Asset Turnover ini menunjukkan banyaknya
penjualan yang dapat dicapai oleh perusahaan atas
22
pendayagunaan total aktiva yang dimiliknya, yang sekaligus
merupakan ukuran tentang pengelolaan aktiva tetapnya.
Total Assets Turnover ini dapat dimaksudkan untuk
mengetahui efisiensi perusahaan dalam melihat kecepatan
perputaran operating assets dalam suatu periode. Anggapan
ini hanya didasarkan pada prinsip efisiensi penggunaan
modal kerja, maksudnya adalah apabila total aktiva tersebut
makin produktif akan menyebabkan laba yang diperoleh
perusahaan ( C. Handoyo Wibisono 1997 : 36 )
b. Inventory Turnover
Inventory Turnover memperlihatkan efisiensi
perusahaan dalam mendayagunakan persediaanya. Rasio ini
merupakan alat ukur yang menunjukan banyaknya
perputaran persediaan setiap tahunnya ( C handoyo
Wibisono 1997 : 34 )
c. Working Capital Turnover
Working Capital Turnover merupakan rasio untuk
mengukur kemampuan modal kerja bersih berputar dalam
periode tertentu semakin cepat perputaran modal kerja,
semakin efisien penggunaan modal kerjanya. Namun
demikian, perputaran modal kerja yang cepat sehingga
hampir tidak pernah ada yang menganggur diperusahaan
akan mengakibatkan kekurangan modal atau dana
23
diperusahaan dalam kegiatan produksinya, artinya
perusahaan tidak mampu menggunakan modal kerjanya
secara efisien.
3. Rasio Rentabilitas
Rentabilitas merupakan alat untuk mengukur tingkat
kemampuan dari perusahaan dalam menggunakan atau
memanfaatkan sejumlah modal untuk memperoleh laba atau
keuntungan.
Rentabilitas penting sekali artinya bagi perusahaan yang
menguatamakan laba. Laba yang diperoleh perusahaan merupakan
suatu ukuran bahwa perusahaan tersebut mamapu bekerja dengan
baik dan efisisen, serta ukuran efisien adalah terjadi apabila
perbandingan antara laba yang diperoleh dengan modal yang
digunakan untuk menghasilkan laba menunjukan persentase yang
relatif tinggi, maka dikenal dengan sebutan rentabilitas.
“Rentabilitas suatu perusahaan menunjukan perbandingan
antara laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba
tersebut. Dengan kata lain rentabilitas adalah kemampuan suatu
perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu”. (
Bambang Riyanto, 1995:35 )
Cara untuk menilai rentabilitas perusahaan itu berbeda –
beda dan tergantung pada laba dan aktiva yang akan
diperbandingkan satu dengan rentabilitas satu dengan lainya. Ada
24
dua cara penilaian rentabilitas yaitu rentabilitas ekonomi dan
rentabilitas modal kerja.
a. Rentabilitas Ekonomi
“Rentabilitas ekonomi ialah perbandingan antara laba
usaha dengan modal sendiri dan modal asing yang
dipergunakan untuk menghasilkan laba tersebut dan
dinyatakan dalam prosentase oleh karena pengertian
rentabilitas sering digunakan dalam mengungkapkan
efisiensi penggunaan modal didalam suatu perusahaan, maka
rentabilitas ekonomi sering pula dimaksudkan sebagai
kemampuan perusahaan dengan seluruh modal yang bekerja
di dalamnya untuk menghasilkan laba” ( Bambang Riyanto,
1995 : 38).
Modal yang digunakan dalam menghitung rentabilitas
ekonomi hanyalah modal yang bekerja didalam perusahaan,
maka modal yang ditanamkan dalam perusahaan lain tidak
diperhitungkan untuk menghasilkan rentabilitas ekonomi.
Bagi perusahaan, rentabilitas itu lebih penting dari masalah
laba, karena laba yang besar saja belumlah merupakan
ukuran bahwa perusahaan ini dapat bekerja dengan efisien
b. Rentabilitas Modal Sendiri
“Rentabilitas modal sendiri atau sering juga dinamakan
rentabilitas usaha adalah perbandingan antara jumlah laba
25
yang tersedia bagi pemilik modal sendiri di satu pihak dengan
modal sendiri yang menghasilkan laba tersebut dilain pihak,
dapat pula dikatakan bahwa rentabilitas modal sendiri yaitu
kemampuan perusahaan dengan modal sendiri untuk
menghasilkan keuntungan”. ( Bambang Riyanto, 1995 : 44 ).
Laba yang diperhitungkan untuk meghitung rentabilitas
modal sendiri adalah laba usaha setelah dikurangi dengan
bunga dari pajak ( Earning After Tax), sedangkan Modal
yang diperhitungkan hanyalah modal sendiri yang bekerja
didalam perusahaan.
I. Efisiensi Modal Kerja
1. Likuiditas
Likuiditas dapat dikatakan sebagai perbandingan antara
jumlah uang tunai dan aktiva lain yang dapat disamakan dengan uang
tunai di satu pihak dengan jumlah Utang Lancar di lain pihak (
Likuiditas Badan Usaha), juga dengan pengeluaran – pengeluaran
untuk menyelenggarakan perusahaan di lain pihak ( Likuiditas
Perusahaan )
Likuiditas badan usaha dapat diketahui dari neraca antara lain
dengan ;
26
a. Current Ratio
Current Ratio ini merupakan ukuran yang berharga untuk
mengukur kesanggupan suatu perusahaan untuk memenuhi
“Current Obligation”nya. Dapat dikatakan bahwa bagi
perusahaan – perusahaan ( yang bukan perusahaan kredit )
Current Ratio kurang dari 2 : 1 dianggap kurang baik sebab
apabila Aktiva Lancar turun, misalnya sampai lebih dari 50%,
maka jumlah aktiva lancarnya tidak akan cukup lagi untuk
menutup utang lancarnya. Pedoman Current Ratio 2 : 1
sebenarnya hanya didasarkan pada prinsip hati – hati.
Dengan demikian pedoman Current ratio 200% bukanlah
pedoman yang mutlak ( Bambang Riyanto, 1995 : 26).
Current Ratio =
x 100 %
b. Quick Ratio
Untuk mendapatkan kepastian yang lebih besar dalam
pengukuran tingkat likuiditas suatu perusahaan dapat dilengkapi
dengan menggunakan “Quick Ratio” sebagai alat
pengukurannya. Quick Ratio dapat diketahui dengan
membandingkan jumlah kas, efek dan piutang disatu pihak
dengan Utang Lancar. Apabila kita menggunakan quick ratio
untuk menentukan tingkat likuiditas, maka secara umum dapat
dikatakan bahwa suatu perusahaan dapat dianggap kurang efisien
Aktiva lancar
Hutang Lancar
27
/ kurang baik likuiditas kurang dari 1 : 1 atau 100%. ( Bambang
Riyanto, 1995 : 28 ).
Quick Ratio =
2. Aktivitas
Rasio – rasio aktivitas menunjukan kemampuan perusahaan
dalam mendayagunakan aktivitasnya. Rasio ini menunjukan
banyaknya penjualan yang dapat dicapai oleh perusahaan atas
pendayagunaan total aktiva yang dimilikinya, yang sekaligus
merupakan ukuran tentang pengelolaan aktiva tetapnya.
a. Total Assets Turnover
Total Assets Turnover yang tinggi menunjukan efisiensi
pengelolaan aktiva yag baik dan ratio yang rendah menunjukan
keadaan yang sebaliknya. Total Assets Turnover dikatakan
efisien jika penjualan besar dari total aktiva ( C. Handoyo
Wibisono, 1997 : 36 )
Total Assets Turnover =
b. Inventory Turnover
Inventory memperlihatkan efisiensi perusahaan dalam
mendayagunakan persediaan. Ratio ini merupakan alat ukur
yang menunjukan banyaknya pergantian atau perputaran
persediaan setiap tahunya. Rasio yang lebih tinggi dari
perusahaan lain yang sejenis menunjukan bahwa pengelolaan
Aktiva Lancar – Piutang Dagang
Hutang Lancar
Penjualan Bersih
Total Aktiva
28
Penjulan Bersih
Aktivta Lancar – Hutang Lancar
persediaannya baik rendahnya tingkat perputaran dapat
diartikan persediaannya terlalu besar yang tentunya akan
disertai dengan tingginya resiko kerusakan atau mungkin dapat
diartikan tingkat penjualan. Akan tetapi inventory turnover yang
terlalu tinggi dapat dianggap sebagai pencerminan jumlah yang
terlalu kecil, yang dapat mengakibatkan perusahaan kehabisan
persediaan dan pada akhirnya akan menghambat penjualannya (
Handoyo Wibisono, 1997 : 34 )
Inventory Turnover =
c. Working Capital Turnover
Ratio ini mengukur kemampuan modal kerja bersih
berputar dalam suatu periode tertentu, semakin cepat perputaran
modal kerja, semakin efisiensi penggunaan modal kerjanya.
Namun demikian, perputaran modal kerja yang terlalu cepat
sehingga hampir tidak pernah ada yang menganggur
diperusahaan akan mengakibatkan kekurangan modal, hal ini
mengancam kontinuitas perusahaan dalam kegiatan produksinya,
artinya perusahaan tidak mampu menggunakan modal kerjanya
secara efisien, ( Saud Husnan, 1998 : 565 )
Working Capital Turnover =
Harga Pokok Penjulan
Persediaan
29
Laba sebelum bunga dan Pajak
Total Aktiva
3. Rentabilitas
Rentabilitas suatu perusahaan menunjukan perbandingan
antara laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba tersebut.
Dengan kata lain rentabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan
untuk menghasilkan laba selama periode tertentu.
a. Rentabilitas Ekonomi
Rentabilitas ekonomi adalah perbandingan antara laba
usaha dengan modal sendiri dan modal asing yang dipergunakan
untuk menghasilkan laba tersebut dan dinyatakan dalam
prosentase. Bagi perusahaan yang umumnya masalah rentabilitas
adalah lebih penting dari pada masalah laba, karena laba yang
besar saja belumlah merupakan ukuran bahwa perusahaan itu
telah dapat bekerja secara efisien. Efisiensi baru dapat diketahui
dengan membandingkan laba yang diperoleh dengan kekayaan
atau modal yang menghasilkan laba tersebut.
Dengan demikian maka yang harus diperhatikan oleh
perusahaan ialah tak hanya bagaimana usaha untuk memperbesar
laba, tetapi yang lebih penting usaha untuk mempertinggi
rentabilitasnya. Efisisensi rentabilitas ekonominya diukur dari
nilai profit margin dan operating turnover ( Bambang Riyanto,
1995 : 38 )
Rentabilitas Ekonomi =
x 100 %
30
Laba bersih sesudah pajak
Modal Sendiri
b. Rentabilitas Modal Sendiri
Rentabilitas modal sendiri adalah kemampuan suatu
perusahaan dengan modal sendiri yang bekerja didalamnya untuk
menghasilkan keuntungan. Rentabilitas modal sendiri dikatakan
efisien apabila “rate of return” tambahan modal ( modal asing
lebih besar dari pada biaya modalnya atau bunganya. Dengan kata
lain tambahan modal asing itu hanya dibenarkan apabila
rentabilitas modal sendiri dengan modal asing lebih besar dari
pada rentabilitas modal sendiri dengan tambahan modal sendiri (
Bambang Riyanto, 1995 : 44 – 45 )
Rentabilitas Modal Sendiri =
x 100 %
J. Sumber dan Penggunaan Modal Kerja
Modal kerja dalam suatu perusahaan selalu dalam keadaan
berputar. Dalam siklus perputaranya, tentu terdapat arus masuk dan arus
keluar. Dengan kata lain terdapat sumber modal kerja dan juga
penggunaanya
1.
Sumber dan Penggunaan Modal Kerja
Pada umumnya pemenuhan modal kerja dapat diperoleh dari
beberapa sumber yang dikelompokkan menjadi sumber jangka
pendek dan sumber jangka panjang untuk kebutuhan modal kerja
sendiri, selain itu dapat juga dipenuhi dengan hutang jangka panjang
31
dan yang perlu diperhatikan disini adalah mengani beban bunga yang
berkaitan dengan hutang tersebut.
Pada umunya modal kerja suatau perusahaan antara lain
berasal dari :
a. Hasil operasi perusahaan, modal kerja diperoleh dari hasil
penjualan barang dagangan dan hasil lainya yang
meningkatakan uang kas dan uang piutang. Tetapi sebgian dari
modal ini harus digunakan untuk menutup harga pokok
penjualan dan biaya – biaya penjualan maupun biaya – biaya
operasi.
b. Keuntungan dari penjualan surat – surat berharga sebagai salah
satu pos aktiva lancar yang dapat dijual dan dari penjualan ini
akan timbul keuntungan.
c. Penjualan aktiva tetap investasi jangka panjang dan aktiva
lancar lainya yang tidak diperlukan lagi oleh perusahaan.
Perubahan dari aktiva ini menjadi kas atau piutang akan
menyebabkan bertambahnya modal kerja.
d. Penjualan saham atau obligasi, apabila sewaktu – waktu
perusahaan memerlukan modal kerja tambahan, perusahaan
dapat mengeluarkan atau menerbitkan saham baru atau
obligasi. Dari hasil tersebut dapat digunakan untuk menambah
modal kerja.
32
Disamping keempat sumber modal kerja diatas, masih ada
lagi sumber lain untuk menambah aktiva lancar, misalnya pinjaman
dari bank atau pinjaman jangka pendek lainya, uang muka dari
pelanggan karena pemesanan barang atau pembelian barang dari
pihak pemasok secara kredit. Akan tetapi bertambahnya aktiva lancar
dari sini diimbangi juga dengan bertambahnya hutang lancar,
sehingga dalam arti net working capital tidak bertambah.
2.
Penggunaan Modal Kerja
Penggunaan modal kerja akan menyebabkan turunya jumlah
aktiva lancar yang dimiliki perusahaan, tetapi penggunaan aktiva
lancar tidak selalu diikuti dengan turunya jumlah modal kerja yang
dimiliki oleh perusahaan, misalnya penggunaan aktiva lancar untuk
memenuhi hutang jangka pendek. Penggunaan modal kerja yang
mengakibatkan turunya aktiva lancar adalah ;
a. Adanya pengambilan uang oleh pemilik untuk kepentingan
pribadi ( Prive ) dari keuntungan atau pembayaran deviden
kepada para pemegang saham dari perseroan terbatas
b. Kerugian usaha atau kerugian insidentil yang memerlukan
pengeluaran kas
c. Pembentukan dana untuk pemisah aktiva lancar dengan tujuan
tertentu. Seperti dana untuk pensiun pegawai , pembayaran
hutang obligasi dan penempatan kembali dari aktiva lancar
menjadi aktiva tetap lainya
33
d. Pembayaran hutang –hutang jangka panjang yang meliputi
hutang hipotik, hutang obligasi maupun hutang jangka panjang
lainya, serta penarikan kembali saham yang beredar.
e. Pembelian atau penambahan aktiva tetap, aktiva tak berwujud
dan investasi jangka panjang yang mengakibatkan
berkurangnya modal kerja
f.
Pembayaran biaya – biaya operasi perusahaan, misalnya
pembayaran upah dan gaji, pembelian barang dagangan dan
pembelian supplies kantor
K. Penelitian Terdahulu
Suwandi ( 2005 ) menganalisa laporan keuangan untuk menilai
kinerja keuangan PT. X di Gresik. Jika di tinjau dari rasio likuiditas PT X
di gresik mempunyai tingkat likuiditas yang baik, karena dapat menjamin
hutangnya, ini ditunjukan dari tahun 1999 sampai 2003 rata – rata rasio
likuditas sebesar 330.5%, yang menunjukan bahwa kesanggupan
perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek karena masih
dijamin dengan aktiva lancar yang lebih besar dari hutang lancarnya. Jika
ditinjau dari rasio Leverage PT X di Gresik selama lima periode tahun
1999 sampai tahun 2003 termasuk mempunyai tingkat leverage yang
rendah ( Kurang 50% ) perusahaan dalam menjalankan kegiatan
perusahaan tidak terlalu tergantung pada hutang.
Noer Sasongoko dan Silfia Kusumaningtyas ( 2004 ) Penelitian
ini untuk mengetahui seberapa besar pengaruh perubahan modal terhadap
34
profitabilitas, dimana profitabilitas ini dapat berbentuk dalam beberapa
rasio profitabilitas anatara lain perubahan Gross Profit margin ( GMP ),
perubahan Operating Income Ratio ( OPM ), Perubahan Net Profit margin
( NPM ), Perubahan Net earning power ratio ( ROI ), Perubahan Rate of
return for the Owner ( ROE ). Tujuan dari penelitian ini adalah menilai
seberapa besar pengaruh perubahan modal kerja terhadap perubahan
profitabilitas dari 50 perusahaan yang tergabung dalam BEJ, dan hasil dari
penelitian ini secara statistik perubahan modal kerja mempunyai efek
untuk merubah profitabilitas, dimana rasio yang berhubungan dengan
profitabilitas yang benar – benar dipengaruhi oleh perubahan modal kerja
adalah GMP dan OPM, ini terbukti dengan hasil uji t yang menyebutkan
GMP dan OPM hasilnya 2.340 ( dimana lebih besar dari T tabel ).
Chusnul Huda ( 2003 ) menganalisa hubungan antara dua factor
yang mempengaruhi besarnya Rentabilitas Ekonomi didalam koperasi
karyawan Pemda Kodya Semarang yaitu Profit Margin dan turn over of
Operating assets, untuk mengetahui kondisi berputarnya modal usaha,
didalam koperasi dalam suatu periode tertentu, untuk mengetahui seberapa
besar kemampuan koperasi dalam mengelola modal kerjanya dan untuk
mengetahui rentabilitas ekonomi usaha koperasi dalam hal ini laporan
keuangan dan sisa hasil usaha tahun 1997 sampai dengan 2001. Dari hasil
tersebut menunjukkan bahwa naik turunnya Rentabilitas Ekonomi yang
semakin meningkat berarti akan semakin efisien penggunaan modal
kerjanya.
35
Ika Wahyuningrum( 2004 ) menganalisa efisiensi penggunaan
modal kerja pada KPRI “Dwi Eksa” kecamatan Jepon kabupaten Blora,
hasilnya jika ditinjau dari rasio likuiditas,current ratio menunjukan bahwa
besarnya angka rasio masih berada dalam batas minimum, menurut
pedoman perusahaan yang likuiditasnya baik meskipun pada tahun 2000
mengalami kenaikan, likiuditas yang baik untuk current ratio harus
mencapai 200% dan akan dinyatakan likuid,sedangkan untuk quick ratio
besarnya sudah memenuhi standar yang ditetapkan oleh perusahaan yaitu
mencapai 100%. Jika ditinjau dari ratio aktivitas baik total assets turnover
maupun working capital turnover besarnya angka ratio dari tahun ke tahun
cenderung mengalami kenaikan. Dari hasil analisis sumber dan
penggunnan modal kerja,terjadi penurunan jumlah modal kerja, maka
KPRI “ Dwi Eksa “ kecamatan Jepon kabupaten Blora dapat dikatakan
berhasil dalam pengumpulan sumber – sumber modal kerja untuk
menjalankan operasionalnya.
Machfoedz ( 1994 ) menguji manfaat rasio keuangan dalam
memprediksi laba perusahaan pada masa 89 perusahaan perusahaan
pemanufakturan yang terdaftar di BEJ dari tahun 1989 – 1993. Machfoedz
menunjukanbahwa rasio keuangan tertentu dapat digunakan untuk
menghasilkan laba satu tahun kedepan, tetapi tidak untuk memprediksi
lebih dari satu tahun.
IG. K. A. Ulupui ( 2006 ) tujuan penelitaian dari studi empiric ini
mempelajari variable akuntansi , Rasio likuiditas, rata-rata, rasio aktivitas
36
ratio dan rasio probabilitas pada perusahaan makanan dan minuman yang
terdaftar antara tahun 1999 – 2005 di Jakarta Stock Exchange. Dari 21
perusahaan yang terdaftar hanya 13 yang digunakan utnuk sample.dari
hasil penelitian tersebut ditemukan ada 2 variabel yaitu Return on Asset
dan Current Ratio ) yang signifikan mempengaruhi pengembalian saham,
dengan nilai signifikan 5 %.
Natarsyah S. ( 2002 ) menganalisa pengaruh beberapa factor
fundamental dan resiko sistematik terhadap harga saham. Penelitian ini
merupakan studi terhadap 16 indurtri barang konsumsi yang go public
dipasar modal dalam periode 8 tahun ( 1990 – 1997 ) dengan
mengansumsikan bahwa harga saham merupakan fungsi dari ROA, ROE,
beta, book value, debt/equitydan required rate of return. Setelah
melakkukan pengujian terhadap hipotesis diperolah hasil bahwa factor
fundamental seperti return on assets, deviden payout ratio, debt to equity
ratio, book value equity pershare, dan indek beta berpengaruh terhadap
harga saham perusahaan. Pengujian hipotesis kedua untuk melihat apakah
benar ROA-sebagai indicator earning power yang dimilikinya-mempunyai
pengaruh yang dominant terhadap harga saham. Hipotesis ini tidak
mendapat dukungan karena ternyata book value equity pershare yang
berpengaruh dominant terhadap harga saham.
Suyatmin ( 2006 ) Penelitian ini menganalisa Cash Ratio, Loan to
deposit ( LDR ) dan loan to asset Ratio ( LAR ). Cash Ratio, LDR, LAR
sering digunakan untuk mengukur analisa rata rata likuiditas. Dalam
37
penelitian ini menggunakan 23 populasi sedangkan yang digunakan untuk
sample adalah BANK yang telah go public sebanyak 10 buah.
Pengambilan sample menggunakan motode Quota sample dari 31 Maret
2003 hingga 30 Maret 2004. hasil dari hipotesis ini menunjukan bahwa
cash ratio untuk semua bank yang sesuai dengan standar BI cash ratio
sebesar 2 %, untuk LDR semua bank yang sesuai dengan standar BI
adalah 110 %. Untuk LAR semua perbankan nilainya naik,akan tetapi2
perbankan yaitu BCA dan CIC bank LAr bernilai kurang dari 30 %. Dapat
disimpulkan bahwa cahs ratio, LDR, dan LAR bisa digunakan mengukur
lukuiditas perbankan.
Susana Damayanti dan Fatchan Achyani ( 2006 ), permasalahan
dari investasi, profitabilitas pertumbuhan dan ukuran perusahaan dari
perussahaan memiliki efek terhadap pertumbuhan perusahaan di masa
depan. Penelitian menngunakan 5 macam penyebab yang memilki efek
terhadap kebijakan deviden dengan menggunakan metode Uji t. penelitian
ini menggunakan 32 sample perusahaan bisnis dengan menggunakan
purpose sampling, dimana perusahaan itu masih aktif dalam BEJ antara
tahun 1999 sampai dengan tahun 2003. Hasil dari penelitian menunjukan
bahwa 5 % mengindikasikan dari 5 variabel yaitu investasi, likuiditas,
profitabilitas, pertumbuhan perusahaan dan ukuran perusahaan terhadap
kebijakan deviden payout ratio tidak memiliki pengaruh terhadap
kebijakan deviden payout ratio.
38
Tuasikal ( 2001 ) menuji manfaat informasi akuntansi dalam
mempredikasi return saham. Sample yang digunakan adalah perusahaan
manufaktur dan nonmanufaktur yang terdaftar di BEJ sejak tahun 1996 –
1997. Hasil penelitian menunjukan bahwa untuk perusahaan
pemanukfaturan informasi akuntansi dalam bentuk rasio keuangan tidak
bermanfaat dalam memprediksi return saham untuk periode satu tahun
kedepan. Sebaliknya, untuk memprediksi dua tahun kedepan hasil
pengujiannya menunjukan informasi akuntansi dalam bentuk rasio
keuangan tertentu bermanfaat dalam memprediksi retur saham. Dipihak
lain informasi akuntansi dalam bentuk rasio keuangan tertentu memiliki
kemampuan prediksi yang berbeda antar perusahaan pemanufakturan dan
nonpemanupakturan dalam memprediksi return saham untuk periode dua
tahun ke depan.
39
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Populasi dan Sampel
Populasi berkaitan dengan seluruh kelompok orang,
kejadian / segala sesuatu yang berkaitan dengan masalah yang
sedang diselidiki oleh peneliti ( sekaran, 2005 ). Pupulasi yang
diambil dalam penelitian ini adalah perusahaan pada sektor
elektronik and Office Equipment yang telah Go Publik dan
terdaftar di BEJ pada tahun 2003 sampai dengan tahun 2006
Jumlah perusahaan sektor Elektonik dan Office Equipment yang
terdaftar di BEJ adalah 3
Sampel adalah bagian dari populasi yang dianggap dapat
mewakili populasinya. Sampel juga merupakan himpunan objek
pengamatan yang dipilih dari populasi di mana populasinya adalah
total dari keseluruhan objek penelitian. Dalam penelitian ini
menjadi sampel penelitian yaitu PT. Astra Graphia Tbk, PT
Metrodata Electronik Tbk, dan Pt Multipolar Corporation Tbk.
B. Sumber Data
Dalam penelitian ini menggunakan data sekunder. Data
yang diperlukan meliputi gambaran umum perusahaan dan laporan
keuangan perusahaan mulai tahun 1999 sampai dengan tahun 2003.
sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari :
39
40
1. Gambaran umum perusahaan diperoleh dari Indonesian
market of Directory ( ICMD )
2. Laporan Keuangan diperoleh dari ICMD
C. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan sampling jenuh yaitu
sampel dipilih semua dari populasi, untuk memilih sampel dalam
penelitian ini adalah perusahaan Electronic and Equipment yang
telah go publik yang terdaftar di BEJ dan mempublikasikan
Laporan keuangan pada tahun 2003 sampai dengan tahun 2006 dan
status perusahaan termasuk dalam PMDN
D. Rencana Analisis Data
a. Rasio Likuiditas
Likuiditas berguna untuk mengatur tingkat kemampuan
perusahaan memenuhi kewajiban finansial / membayar hutang
– hutang jangka pendek yang sudah jatuh tempo
1. Current ratio merupakan kemampuan untuk membayar
hutang yang segera harus dipenuhi dengan aktiva lancar
Current Ratio =
x 100 %
2. Quick Ratio merupakan kemampuan perusahaan untuk
membayar hutang yang segera harus dipenuhi dengan
aktiva lancar yang lebih likuid.
Quick ratio =
Aktiva Lancar
Hutang Lancar
Aktiva Lancar – Piutang Dagang
Hutang Lancar
41
b. Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas adalah rasio yang menunjukan kemampuan
perusahaan dalam mendayagunakan aktivitasnya. Dengan cara
menilai tingkat perputaran dari unsur – unsur modal ( C.
Handoyo Wibisono, 1997 : 34 )
Adapun jenis rasio aktiva adalah sebagai berikut :
1. Total Assets Turnover
Yaitu menunjukan banyaknya penjualan yang
dicapai oleh perusahaan atas pendayagunaan total aktiva
yang dimiliki. Total Assets Turnover juga digunakan untuk
mengetahui efisiensi.
Total Aset Turnover =
2. Inventory Turnover
Memperlihatkan efisiensi perusahaan dalam
mendayagunakan persediaannya. Rasio ini merupakan alat
ukur yang menunjukan banyaknya perputaran persediaan
setiap tahunya.
Inventory Turnover =
3. Working Capital Turnover
Digunakan untuk mengukur efisiensi perusahaan
dalam memenuhi kewajiban finansialnya, dapat juga
dilakukan dengan menganalisa perputaran modal kerja
Penjualan Bersih
Total Aktiva
Harga Pokok Penjualan
Persediaan
42
Laba sebelum bunga dan Pajak
Total Aktiva
Laba bersih sesudah pajak
Modal sendiri
yaitu kemampuan modal kerja yang berputar dalam periode
tertentu.
Working Capital Turnover =
c. Rasio Rentabilitas
Rentabilitas Ekonomi berguna untuk mengukur tingkat
kemampuan dari perusahaan dalam menggunakan atau
memanfaatkan sejumlah modal untuk memperoleh laba atau
keuntungan. Yang dirumuskan sebagai berikut :
Rentabilitas =
Jenis – jenis rentabilitas :
1. Rentabilitas Ekonomi
Perbandingan antara laba usaha dengan modal sendiri
dan modal asing yang digunakan untuk menghasilkan laba
Rentabilitas Ekonomi =
x 100%
2. Rentabilitas Modal Kerja Sendiri
Merupakan perbandingan antara laba bersih sesudah
pajak dengan modal sendiri yang digunakan untuk
mengasilkan Laba.
Rentabilitas Modal Sendiri =
x 100%
Penjualan Bersih
Aktiva Lancar – Hutang lancar
L
M
43
Analisis ini digunakan untuk mengukur efisiensi penggunaan modal kerja
secara keseluruhan, setelah rentabilitas modal kerja dihitung kemudian
dibandingkan dari tahun ke tahun untuk mengetahui adanya kenaikan atau
penurunan.
44
BAB IV
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASANNYA
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dibawah ini akan diuraikan
hasil penelitian dan pembahasan, antara lain sebagai berikut :
A. Gambaran Umum Perusahaan
1. Sejarah Perkembangan Perusahaan
a) PT Astra-Graphia Tbk.
Perusahaan yang mulai beroperasi pada tahun 1971 sebagai
perluasan dari PT Astra International. Perusahaan memiliki jaringan
distribusi yang terletak di 70 titik pelayanan di seluruh Indonesia. Pada
tahun 1990 perusahaan memperoleh Fasilitas Mitracorp PT
International , pada tahun 1996 melalui isu yang benar perusahaan
menawarkan 156,14 juta saham senilai 100 miliar. Dengan akuisisi, PT
Mitracorp merger dengan PT. Astra Graphia. Perusahaan telah menjual
semua saham kepada PT LG Electronics Astra dan Graha Kartika
Kencana PT LG elektronik inc. Selama 2000, perusahaan melepaskan
tiga perusahaan yang memproduksi barang dari kulit dan pakaian yaitu
PT Bina Busanainternusa, PT Surya Puspita, dan PT Mitra Chungsan
International, kepada PT Damai Makmur Utama senilai 16 miliar.
Selain itu, juga dijual sepatu dan off divisi untuk US $ 11,5 Juta untuk
Dimensione s limited. Setelah berhenti di unit ini, perusahaan lebih
fokus kedalam dua unit informasi bisnis solusi dokumen dan solusi
44
45
teknologi informasi. Untuk mendukung operasional solusi dalam
dokumen, perusahaan ini telah memilih aliansi strategi dengan IBM,
Compaq, Oracle, dan Cisco dan akan segera bergabung dengan
Microsoft
b) PT Metrodata Electronics Tbk
Perusahaan ini didirikan pada 17 Februari 1983 dan menjadi
anggota baru dalam kelompok usaha Metrodata, yang menonjol dalam
teknologi informasi sejak tahun 1975. Sejak lahir, perusahaan ini telah
berganti nama pada beberapa kali, dan mendapatkan nama PT
Metrodata Elektronik Tbk pada 28 Maret 1991. Pada Februari 1990,
perusahaan meluncurkan Initial Public Offering di Bursa Efek Jakarta
dan Bursa Efek Surabaya untuk meningkatkan dana untuk investasi
dan modal kerja serta untuk partisipasi masyarakat dalam
pembangunan dan pertumbuhan. Perusahaan ini merupakan salah satu
perusahaan teknologi informasi terkemuka di Indonesia dan telah
membangun aliansi strategis dengan dunia teknologi informasi
perusahaan seperti IBM, Compaq, Hewlett Packard, Epson, Kreasi
Teknologi, Sony, Acer, 3COM, Toshiba, Microsoft, Oracle, Lotus ,
Sun Microsystems, Cisco System, SAP, dll. Perusahaan ini memiliki
dua garis bisnis utama: Unit Usaha commerce, yang menangani
distribusi melalui B2B e-commerce, e-commerce B2C, retail dan
jaminan pemeliharaan layanan pos; dan yang kedua adalah Solusi
46
Bisnis Unit, yang memberikan solusi total untuk tradisional ‘teknologi
informasi dan internet. Pada bulan Juli 2001, perusahaan ini dijual
kepada PT Metrodata Global Akses ke PT M-Web Indonesia. Mei
2003 ada peluncuran ION yaitu komputer produk pertama yang akan
dikembangkan oleh perusahaan ini,
c) PT Multipolar Corportion Tbk.
Perusahaan ini didirikan pada tahun 1975 dan mulai
beroperasi komersial pada tahun 1980 sebagai toko barang elektronik.
Dalam beberapa tahun perusahaan yang melakukan perluasan
pertamanya dari barang elektronik ke komputer dan teknologi
informasi pasar, di mana ia memutuskan untuk fokus sepenuhnya pada
program aplikasi perbankan. Pada pertengahan tahun delapanpuluhan,
perusahaan mulai mengukir nama di industri IT dan diangkat pertama
oleh IBM Business Partner di Indonesia dan Asia. Pada bulan Juli
1990, perusahaan membuat terobosan baru dengan menjadi yang
pertama untuk Perusahaan TI dalam daftar saham di Bursa Efek
Jakarta dan Bursa Efek Surabaya. Melalui investasi pada anak
perusahaan, perusahaan memperluas usahanya dalam berbagi bidang
antara lain registri dan kantor arsip penanganan dan tahanan, namun
perusahaan tetap memfokuskan diri pada teknologi informasi.
Memasuki milenium baru ini, perusahaan telah menjadi perusahaan
yang banyak bidang. Perusahaan memperluas pasar di luar perbankan
47
dan sektor keuangan yang telah menjadi kontributor utama bagi
keberhasilan perusahaan. Perusahaan ini juga telah memperluas
jangkauan ke pasar minyak dan gas, retail, telekomunikasi, manufaktur
serta lintas bagian dari berbagai industri lainnya. Perusahaan terus
mencari teknologi baru serta investasi strategis yang berfungsi sebagai
batu loncatan sukses untuk masa depan. Melalui investasi ini,
perusahaan juga tumbuh sendiri dalam usaha ritel, band papan media,
dan telekomunikasi
2. Struktur Organisasi
a) PT Astra-Graphia Tbk
Susunan Dewan Komisaris
Presiden Komisaris
: Gunawan Geniusahardja
Komisaris
: Setyo Adioetomo
John Stuart Andrerson Slack
Susunan Direktur
Presiden Direktur
: Lukito Dewandaya
Wakil Presiden Direktur
: Hertanto Mangkusasono
Direktur
: Santosa
Arya Narayana Soemali
b) PT Metrodata Electronics Tbk
Susunan Dewan Komisaris
48
Presiden Komisaris
: Ir. Hiskak Secakusuma SE, MM
Wakil Presiden Komisaris
: Chandra Ciputra, MBA
Komisaris
: Dr. Cahyono Halim, MBA
Susunan Direktur
Presiden Direktur
: Ir. Lesan Limanardja
Wakil Presiden Direktur
: Ir. Agus Wododo
Direktur
: Ir. Sjafril Effendi
c) PT Multipolar Corporation Tbk
Susunan Dewan Komisaris
Presiden Komisaris
: DR. Cheng Cheng Wen
Komisaris
: Jonathan L. Parapak
M. Salim Radjiman
Marshall Wallace Cooper
Susunan Direktur
Presiden Direktur
: Jefrey Koeswonsono
Direktur
: Ketut Budi Wijaya
Agus Susanto
Dicky Setiadi Mochtar
Lay Krisnan Cahya
Harijono Suwarno
49
3. Struktur Modal
a) PT Astra-Graphia Tbk
PT Astra International Tbk
b) PT Metrodata Electronics Tbk
Ockham Cay Holding., Ltd.
British Virgin Island
Ir Hiskak Secakusuma
Ir. Lesan Limanardja
c) PT Multipolar Corporation Tbk
Accros Asia Ltd
50
4. Laporan Keuangan
a) PT Astra-Graphia Tbk
Tabel 4.1
Summary Of Finansial Statement
Jutaan Rupiah
Keterangan
2002
2003
2004
2005
2006
Total Aktiva
722,881
704,664
571,015
518,804 584,839
Aktiva Lancar
394,955
423,259
371,017
309,829 370,126
Kas dan Kas Dibank
101,021
168,740
194,004
127,061 151,615
Deposito Berjangka
17,297
6,298
1,460
1,687
5,715
Piutang Dagang
132,783
129,987
69,336
81,778
98,356
Persediaan
102,516
104,541
70,281
81,615
95,401
Aktiva Tidak Lancar
327,926
281,405
199,999
208,975 214,713
Aktiva Tetap Bersih
169,967
159,377
135,944
140,887 137,308
Investasi
81,467
55,784
43,366
47,977
53,645
Aktiva lain – lain
75,954
66,245
20,688
20,111
23,760
Kewajiban
403,839
372,112
239,918
233,928 288,885
Kewajiban Lancar
146,279
213,962
77,994
93,033 152,613
Utang Dagang
22,218
84,345
44,723
47,302 100,349
Utang Pajak
24,935
24,689
9,315
13,575
25,908
Utang Jangka Panjang
62,072
95,839
18,366
19,061
15,044
Kewajiban Tidak Lancar
257,560
158,151
161,924
140,895 136,272
Modal Saham
319,042
332,552
331,097
284,876 295,954
Saham Beredar
131,587
134,723
134,878
134,878 134,878
Saham yang masih
dimiliki Perusahaan
24,757
38,888
39,587
39,587
39,587
Laba ditahan
162,698
158,941
156,631
110,410 121,488
Penjualan Bersih
829,488
802,169
472,267
545,462 619,039
Harga Pokok Penjualan
572,663
555,775
276,342
337,047 385,186
Laba Kotor
256,825
246,394
195,925
208,415 233,853
Biaya Operasi
194,394
191,903
138,966
152,095 157,122
Laba Bersih
62,431
54,490
56,959
56,320
76,731
Pendapatan Lain-lain
44,154
(28,649)
2,416
(1,613)
4,869
Laba (rugi) Sebelum
Pajak
106,585
25,841
59,375
54,707
81,600
Laba ( rugi ) sesudah
Pajak
71,738
21,414
37,334
36,067
55,565
51
b) PT Metrodata Electronics Tbk
Tabel 4.2
Summary Of Finansial Statement
Jutaan Rupiah
Keterangan
2002
2003
2004
2005
2006
Total Aktiva
452,479
451,856
611,042
666,604 740,800
Aktiva Lancar
330,195
301,283
464,790
551,639 629,601
Kas dan Kas Dibank
42,015
46,733
99,099
100,331 106,397
Piutang Dagang
145,846
132,886
222,844
320,250 317,634
Persediaan
49,721
60,692
71,385
76,864 116,720
Aktiva Tidak Lancar
122,284
150,573
146,251
114,965 111,199
Aktiva Tetap Bersih
54,065
72,040
54,819
35,124
31,382
Investasi
16,758
13,967
15,297
15,313
15,565
Aktiva lain – lain
34,199
30,350
32,381
26,364
27,759
Kewajiban
235,855
233,819
332,079
364,665 454,759
Kewajiban Lancar
133,195
131,218
280,760
324,505 415,005
Pinjaman BANK
-
10,581
56,083
69,940 128,312
Utang Dagang
48,860
50,584
69,481
135,219 164,270
Utang Jangka Panjang
26,004
22,445
21,809
25,741
16,070
Kewajiban tidak Lancar
72,008
67,926
51,320
40,160
39,754
Bunga Obligasi minoritas
yang belum dibayar
30,652
34,675
44,811
52,030
23,743
Modal Saham
216,624
218,037
234,152
249,910 262,298
Saham Beredar
101,035
101,072
101,072
101,072 101,072
Saham yang masih
dimiliki perusahaan
40,658
40,625
40,519
40,519
40,519
Laba ditahan
74,931
76,340
92,561
108,319 120,708
Penjualan Bersih
994,803
944,300 1,260,770 1,503,906 1,636,282
Harga Pokok Penjulan
859,685
809,985 1,101,047 1,319,571 1,450,622
Laba Kotor
135,118
134,315
159,723
184,095 185,660
Biaya Operasi
109,002
99,998
109,653
118,095 132,739
Laba Bersih
26,116
34,317
50,071
66,240
52,921
Pendapatan Lain-lain
(52,690)
(13,194) (15,178) (23,620)
(8,667)
Laba (rugi) Sebelum
pajak
(26,574)
21,122
34,892
42,621
44,254
Laba ( rugi ) sesudah
Pajak
(37,935)
839
12,253
16,307
20,776
52
c) PT Multipolar Corporation Tbk
Tabel 4.3
Summary Of Finansial Statement
Jutaan Rupiah
Keterangan
2002
2003
2004
2005
2006
Total Aktiva
1,772,387 1,736,625 4,872,881 5,480,658 7,479,242
Aktiva Lancar
412,197
367,742 2,136,365 1,919,853 3,400,000
Kas dan Kas Dibank
14,649
23,990 1,073,699
542,066 1,433,573
Piutang Dagang
171,618
192,793
156,532
128,776 252,288
Persediaan
82,043
31,371
466,899
735,531 853,539
Aktiva Tidak Lancar
1,360,190 1,368,883 2,736,516 3,560,805 4,079,015
Aktiva Tetap Bersih
66,385
51,644 1,366,413 1,932,840 2,150,230
Investasi
1,257,212 1,298,551
304,118
236,709 243,121
Aktiva lain – lain
16,606
6,285
403,303
326,251 644,909
Kewajiban
726,099
664,869 2,909,852 3,080,435 4,953,737
Kewajiban Lancar
522,606
350,379 1,578,479 1,542,306 2,497,566
Utang Jangka Pendek
330,320
171,967
441,562
264,562 688,980
Utang Dagang
40,429
59,574
483,110
577,037 657,123
Utang Jangka Panjang
-
-
Kewajiban tidak Lancar
203,055
314,490 1,331,373 1,538,129 2,456,171
Bunga Obligasi minoritas
yang belum dibayar
438
- 1,017,602 1,112,232 1,161,130
Modal Saham
1,046,287 1,071,756
945,427 1,287,991 1,364,375
Saham Beredar
935,884
935,884
935,884 1,228,348 1,247,601
Saham yang masih
dimiliki perusahaan
32,313
32,313
32,313
21,404
21,104
Laba ditahan
78,090
103,559
(22,770)
38,239
95,670
Penjualan Bersih
501,441
594,388 2,506,936 7,490,735 9,100,380
Harga Pokok Penjulan
399,186
476,688 1,823,629 5,387,239 6,684,474
Laba Kotor
102,255
117,700
683,307 2,103,496 2,415,906
Biaya Operasi
65,200
68,626
534,938 1,782,005 1,979,631
Laba Bersih
37,056
49,075
148,369
321,491 436,275
Pendapatan Lain-lain
(1,096)
(16,437) (65,593) (115,829) (268,277)
Laba (rugi) Sebelum
pajak
35,960
32,638
82,776
205,662 167,998
Laba ( rugi ) sesudah
Pajak
31,712
30,768
23,127
60,718
45,159
53
B. Analisis Data
1. PT Astra-Graphia Tbk
a. Rasio Likuiditas
Likuditas berguna untuk mengukur tingkat kemampuan
perusahaan memenuhi kewajiban financial atau membayar hutang –
hutang jangka pendek yang sudah jatuh tempo. Analisis yang
digunakan adalah sebagai berikut ;
1) Current Ratio
Kemampuan perusahaan untuk membayar hutang yang
harus segera dipenuhi dengan aktiva lancer
Current Ratio =
Aktiva Lancar X 100%
Hutang Lancar
( Bambang Riyanto,
1993 : 26 )
Tabel 4.4
Current Ratio
PT Astra-Graphia Tbk
Periode 2002 – 2006 ( Jutaan Rupiah )
Tahun
Aktiva
Lancar
(RP)
Hutang
Lancar
(Rp)
Current
Ratio (%)
(3=1/2)
Perubahan
Aktiva
Lancar(%)
Naik
(
Turun )
(4=(1thx2-
1thx1)/1thx1
Perbahan
Hutang Lancar
(%) Naik
( Turun )
5=(2thx2-
2thx1)/2thx1
Perubahan
Current Ratio
(%) Naik
( Turun )
(6=3thx2-
3thx1)/3th1
2002
394,955
146,279
270.00
-
-
-
2003
423,259
213,962
197.82
7.17
46.27
(26.73)
2004
371,017
77,994
475.70
(12.34)
(63.55)
140.47
2005
309,829
93,033
333.03
(16.49)
19.28
(29.99)
2006
370,126
152,613
242.53
19.46
64.04
(27.18)
Sumber Data diolah
Dari tabel diatas terlihat tingkat likuiditas yang
ditunjukkan oleh Current Ratio untuk tahun 2002 sampai dengan
54
2006 selalu mengalami perubahan – perubahan yang dapat
dijelaskan sebagai berikut;
a) Periode Tahun 2002-2003
Tingkat Current Ratio pada tahun 2002 sebesar 270%
mengalami penurunan sebesar 26.73 % sehingga tingkat
Current Ratio Perusahaan pada tahun 2003 menjadi 197.82%.
Adanya penurunan ini disebabkan karena kenaikan aktiva
lancar 7.17% dan kenaikan Hutang Lancar sebesar 46.27%.
b) Periode Tahun 2003-2004
Tingkat Current Ratio pada tahun 2003 sebesar
197.82% mengalami kenaikan sebesar 140.47 % sehingga
tingkat Current Ratio Perusahaan pada tahun 2004 menjadi
475.70%. Adanya kenaikan ini disebabkan karena penurunan
aktiva lancar 12.34% dan penurunan Hutang Lancar sebesar
63.55%.
c) Periode Tahun 2004-2005
Tingkat Current Ratio pada tahun 2004 sebesar 475.7%
mengalami penurunan sebesar 29.99 % sehingga tingkat
Current Ratio Perusahaan pada tahun 2005 menjadi 333.03%.
Adanya penurunan ini disebabkan karena penurunan aktiva
lancar 16.49% dan kenaikan Hutang Lancar sebesar 19.28%.
55
d) Periode Tahun 2005-2006
Tingkat Current Ratio pada tahun 2005 sebesar
333.03% mengalami penurunan sebesar 27.18 % sehingga
tingkat Current Ratio Perusahaan pada tahun 2006 menjadi
242.53%. Adanya penurunan ini disebabkan karena kenaikan
aktiva lancar 19.46% dan kenaikan Hutang Lancar sebesar
64.04%.
2) Quick Ratio
Kemampuan perusahaan untuk membayar hutang yang
harus segera dipenuhi dengan aktiva lancar yang likuid.
Rumus yang digunakan adalah :
Quick Ratio =
Aktiva Lancar – Piutang Lancar
X 100 %
Hutang Lancar
( C. Bambang
Riyanto, 1995 : 28 )
Tabel 4.5
Quick Ratio
PT Astra-Graphia Tbk
Periode 2002 – 2006 ( Jutaan Rupiah )
Tahun
Aktiva
Lancar
( Rp)
( 1 )
Piutang
Dagang
( Rp )
( 2 )
Aktiva
Lancar -
Piutang
Dagang
( Rp )
(3=1-2)
Hutang
Lancar
( Rp )
( 4 )
Quick
Ratio
(%)
(5=3/4)
Perubahan
Aktiva
Lancar %
Naik
(turun )
(6=(1thx2 -
1thx1) /
Perubahan
Piutang
Lancar
(%) Naik
(turun )
(7=(2thx2 -
2thx1) /
Perubahan
Hutang
Lancar (%)
Naik (turun
)
(8=(3thx2 -
3thx1) /
Perubahan
Quick
Ratio (%)
Naik
(turun )
(9=(5thx2 -
5thx1) /
2002
394,955
132,783
262,172
146,279
179.23
2003
423,259
129,987
293,272
213,962
137.07
7.17
(2.11)
46.27
(23.52)
2004
371,017
69,336
301,681
77,994
386.80
(12.34)
(46.66)
(63.55)
182.20
2005
309,829
81,778
228,051
93,033
245.13
(16.49)
17.94
19.28
(36.63)
2006
370,126
98,356
271,770
152,613
178.08
19.46
20.27
64.04
(27.35)
Sumber Data diolah
56
Dari tabel diatas terlihat tingkat likuditas yang
ditunjukan oleh Quick ratio untuk tahun 2002 sampai dengan
tahun 2006 selalu mengalami perubahan. Perubahan tersebut
dapat dijelaskan sebagai berikut :
a) Periode tahun 2002 – 2003
Tingkat Quick Ratio pada tahun 2002 sebesar
179,23 % mengalami penurunan sebesar 23.52%
sehingga Quick Ratio perusahaan pada tahun 2003
menjadi 137.07%. Adanya penurunan ini ini disebabkan
karena kenaikan Aktiva Lancar sebesar 7.17 %,
Penurunan Piutang Dagang sebesar 2,11 % dan kenaikan
Hutang Lancar sebesar 46.27%.
b) Periode tahun 2003 – 2004
Tingkat Quick Ratio pada tahun 2003 sebesar
137.07 % mengalami kenaikan sebesar 182.20% sehingga
Quick Ratio perusahaan pada tahun 2004 menjadi
386.80%. Adanya kenaikan ini ini disebabkan karena
penurunan Aktiva Lancar sebesar 12.34 %, Penurunan
Piutang Dagang sebesar 46.66 % dan penurunan Hutang
Lancar sebesar 63.55%.
c) Periode tahun 2004 – 2005
Tingkat Quick Ratio pada tahun 2004 sebesar
386.80 % mengalami perunanan sebesar 36.63% sehingga
57
Quick Ratio perusahaan pada tahun 2005 menjadi
245.13%. Adanya penurunan ini ini disebabkan karena
penurunan Aktiva Lancar sebesar 16.49 %, kenaikan
Piutang Dagang sebesar 17.94 % dan kenaikan Hutang
Lancar sebesar 19.28%
d) Periode tahun 2005 – 2006
Tingkat Quick Ratio pada tahun 2005 sebesar
245.13 % mengalami perunanan sebesar 27.35% sehingga
Quick Ratio perusahaan pada tahun 2006 menjadi
178.08%. Adanya penurunan ini ini disebabkan karena
kenaikan Aktiva Lancar sebesar 19.46 %, kenaikan
Piutang Dagang sebesar 20.27 % dan kenaikan Hutang
Lancar sebesar 64.04%
b. Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas adalah rasio yang menunjukan kemampuan
perusahaan dalam mendayagunakan aktiviasnya. Dengan cara
menilai tingkat perputaran dari unsure – unsure modal.
Adapaun jenis Rasio Aktivitas adalah sebagai berikut ;
1) Total Assets Turnover
Menunjukan banyaknya penjualan yang dicapai oleh
perusahaan atas pendayagunaan total aktiva yang dimiliki.
Total Assets Turnover juga digunakan untuk mengetahui
efisiensi.
58
Total Assets Turnover =
Penjualan Bersih
Total Aktiva
( C. Handoyo
Wibisono, 1997:36)
Tabel 4.6
Total Assest Turnover
PT Astra-Graphia Tbk.
Periode 2002 – 2006 ( Jutaan Rupiah )
Tahun
Penjualan
Bersih
( Rp )
( 1)
Total
Aktiva
( Rp )
( 2 )
Total Assest
Turnover
(3=1/2)
Perubahan
Penjualan Bersih
Naik ( turun )
(4=(1thx2-
1th1)/1thx1)
Perubahan
Total Aktiva
Naik ( turun )
(5=(2thx2-
2th1)/2thx1)
Perubahan
Total Assest
Turnover
Naik ( turun )
(6=(3thx2-
3th1)/3thx1)
2002
829,488
722,881
1.15 kali
-
2003
802,169
704,664
1.14 kali
(0.03) kali
(0.13) kali
(0.01) kali
2004
472,267
571,015
0.83 kali
(0.41) kali
(0.19) kali
(0.27) kali
2005
545,462
518,804
1.05 kali
015 kali
(0.09) kali
(0.27) kali
2006
619,039
584,839
1.06 kali
0.13 kali
0.13 kali
0.01 kali
Sumber Data di olah
Dari table diatas, terlihat tingkat aktivitas yang
ditunjukan oleh Total Assest Turnover untuk tahun 2002
sampai dengan tahun 2006 selalu mengalami perubahan.
Perubahan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
a) Periode tahun 2002 – 2003
Tingkat Total Assest Turnover pada tahun 2002
sebesar 1.15 kali mengalami penurunan sebesar 0.01
kali sehingga Total Assets Turnover perusahaan pada
tahun 2003 menjadi 1.14 kali. Adanya penurunan ini
disebabkan karena penurunan total aktiva sebesar 0.03
kali dan penurunan penjualan bersih sebesar 0.03kali.
59
b) Periode tahun 2003 – 2004
Tingkat Total Assest Turnover pada tahun 2003
sebesar 1.14 kali mengalami penurunan sebesar 0.27
kali sehingga Total Assets Turnover perusahaan pada
tahun 2004 menjadi 0.83 kali. Adanya penurunan ini
disebabkan karena penurunan total aktiva sebesar 0.19
kali dan penurunan penjualan bersih sebesar 0.41 kali.
c) Periode tahun 2004 – 2005
Tingkat Total Assest Turnover pada tahun 2004
sebesar 0.83 kali mengalami kenaikan sebesar 0.27
kali sehingga Total Assets Turnover perusahaan pada
tahun 2005 menjadi 1.05 kali. Adanya kenaikan ini
disebabkan karena penurunan total aktiva sebesar 0.09
kali dan kenaikan penjualan bersih sebesar 0.15 kali.
d) Periode tahun 2005 – 2006
Tingkat Total Assest Turnover pada tahun 2005
sebesar 1.05 kali mengalami kenaikan sebesar 0.01
kali sehingga Total Assets Turnover perusahaan pada
tahun 2006 menjadi 1.06 kali. Adanya kenaikan ini
disebabkan karena kenaikan total aktiva sebesar 0.13
kali dan kenaikan penjualan bersih sebesar 0.13 kali.
60
2) Inventory Turnover
Memperlihatkan efisiensi perusahaan dalam rangka
mendayagunakan persedianya. Rasio ini merupakan alat ukur
yang menunjukan banyaknya perputaran persediaan setiap
tahunya
Inventory Turnover =
Harga Pokok Penjualan
Persediaan
( C. Handoyo Wibisono, 1997;34)
Tabel 4.7
Inventory Turnover
PT. Astra-Graphia Tbk.
Periode tahun 2002 – 2006
Tahun
Harga Pokok
Penjualan
(Rp)
(1)
Persediaan
(Rp)
(2)
Inventory
Turnover
(3=1/2)
Perubahan
Harga Pokok
penjualan naik (
turun )
(4=(1thx2-
1thx1)/1thx1)
Perubahan
Persediaan
Naik ( turun )
(4=(1thx2-
1thx1)/1thx1)
Perubahan
Inventory
Turnover
naik ( turun )
(4=(1thx2-
1thx1)/1thx1)
2002
572,663
102,516
5.59
2003
555,775
104,541
5.32
(0.03) kali
0.02 kali
(0.05) kali
2004
276,342
70,281
3.93
(0.50) kali
(0.33) kali
(0.26) kali
2005
337,047
81,615
4.13
0.22 kali
0.16 kali
0.05 kali
2006
385,186
95,401
ka boleh kah saya minta tolong neh….
aku skrng lg nyusun skripsi tentang judul yang sama,,,,
boleh minta tolong ngak???/
boleh saya minta softcopy dari skripsi kakak….
saya sebenernya lg butuh tentang pengertian efisiensi modal kerja, td saya liat di tulisan kakak ada…saya butuh bgt daftar pustakanya,,,,,kak, kl boleh saya minta donk….kak kl kakak bersedia bantu saya, please kirim ke email saya st_1pru@yahoo.com…trima kasih sebelumnya….
waaahhh maaf itu bukan skipsiku, itu cuma tugas biasa aja dari kampus.